Mengangankan Bani IKHAR sebagai Arsitek Peradaban: Mengintegrasikan Warisan, SDM, dan Kekuatan Sosial-Ekonomi

Pertemuan Bani IKHAR (Ikatan Keluarga Haji Abdur Rasyid) hari ini bagi saya bukan sekadar agenda silaturahim, melainkan momentum strategis untuk membaca ulang arah perjuangan berbasis potensi yang telah diwariskan oleh sosok Mbah Kyai Haji Abdur Rasyid. Sebagai tokoh petani sekaligus juragan tebu besar di Kabupaten Malang, pada masanya, beliau tidak hanya meninggalkan aset material berupa lahan pertanian yang luas, tetapi juga warisan nilai berupa filantropi, keberpihakan pada ulama, serta visi sosial yang terintegrasi. Tradisi mengambil menantu dari kalangan kiai seperti KH. Zainuddin dan KH. Bukhari bukan sekadar pilihan kultural, melainkan strategi sosial yang secara tidak langsung membangun aliansi antara kekuatan ekonomi dan otoritas keagamaan. Dari titik inilah kemudian lahir jaringan pesantren seperti Raudlatul Ulum Ganjaran I–XI, Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, al-Naqsyabandiyah Sukosari, An Nur1, 2, dan 3 di Bululawang, dan berbagai pesantran dan cabang pesantren lainnya yang hari ini menjadi tulang punggung reproduksi nilai dan kaderisasi ASWAJA.

Dalam konteks kekinian, saya membaca bahwa Bani IKHAR memiliki konfigurasi modal yang sangat lengkap: modal spiritual melalui pesantren dan jaringan kiai, modal intelektual melalui lembaga pendidikan formal, Taman Kanak kanak sampai Perguruan Tinggi, modal ekonomi melalui usaha trading, pertanian dan peternakan, modal sosial melalui jejaring Nahdlatul Ulama, Pengus Cabang dan Pengurus Besar hingga modal politik melalui keterwakilan kader di berbagai partai seperti PKB, PPP, dan Gerindra. Kehadiran generasi yang menguasai teknologi, khususnya di bidang IT, sebenarnya semakin memperkuat posisi Bani IKHAR dalam menghadapi era transformasi digital. Dengan komposisi ini, sebenarnya Bani IKHAR tidak lagi sekadar keluarga besar, tetapi sebuah potensi menjadi ekosistem sosial-ekonomi yang terintegrasi dan berdaya pengaruh lintas sektor.

Namun, kompleksitas potensi ini saya pikir menuntut adanya desain pengembangan SDM yang terarah. Tanpa orkestrasi yang tepat, keunggulan tersebut akan berjalan parsial dan kehilangan daya ungkit kolektif. Oleh karena itu, pengembangan SDM Bani IKHAR perlu diarahkan pada pembentukan arsitektur kaderisasi berlapis, di mana pesantren berfungsi sebagai fondasi pembentukan karakter dan orientasi nilai, sekolah dan madrasah sebagai penguat kapasitas akademik dan literasi modern, serta perguruan tinggi dan dunia profesional sebagai ruang spesialisasi dan aktualisasi kompetensi. Pola ini harus dirancang sebagai alur kaderisasi yang sistemik, sehingga setiap generasi menjadi bagian dari kesinambungan kepemimpinan, bukan sekadar individu yang berjalan sendiri atau berdasarkan  jalur keluarga batihnya semata.

Di sektor ekonomi, kekuatan historis di bidang pertanian dan peternakan Mbah Haji Abdur Rasyid perlu ditransformasikan menuju model agroindustri yang lebih modern dan terintegrasi. Di sinilah peran generasi muda yang menguasai teknologi menjadi sangat penting, terutama dalam mendorong praktik pertanian cerdas, digitalisasi rantai pasok, serta pengembangan usaha kolektif berbasis kelembagaan yang profesional. Dengan pendekatan ini, aset lahan yang diwariskan dan yang ditambahkan tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dioptimalkan sebagai sumber nilai tambah yang berkelanjutan.

Dalam ranah sosial-keagamaan, jaringan pesantren yang dimiliki Bani IKHAR harus diposisikan sebagai pusat pengembangan masyarakat yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan produksi gagasan keislaman yang kontekstual. Integrasi antara pesantren dan sektor ekonomi akan memperkuat posisi Bani IKHAR sebagai kekuatan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.

Sementara itu, keberadaan kader di berbagai partai politik, Bulik Masfufah di DPD Kabupaten jalur PKB, Nurul Huda di DPRD Provinsi melalui PPP, dan Gus Mamak di DPR RI melalui Gerindra, merupakan peluang strategis yang perlu dikelola dengan bijak dan terarah. Bani IKHAR dapat memposisikan diri sebagai kekuatan nilai yang mendorong kebijakan publik yang berpihak pada pendidikan, pesantren, dan ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, perbedaan afiliasi politik tidak menjadi sumber fragmentasi, tetapi justru menjadi saluran pengaruh yang memperluas kontribusi Bani dalam kehidupan berbangsa.

Dalam momentum pertemuan ini, pesan para sepuh menjadi fondasi moral yang sangat penting bagi arah pengembangan tersebut. Man Tuan H. Yasir mengingatkan bahwa silaturahim tidak cukup dilakukan dalam kondisi normal atau kepada mereka yang sehat, tetapi justru harus diutamakan kepada keluarga yang sedang sakit dan mengalami cobaan, sebagai bentuk kepekaan sosial dan solidaritas internal. KH. Alimuddin menegaskan bahwa silaturahim harus terus dijaga melalui tradisi saling memberi, yang merupakan warisan kebaikan dari Mbah Haji Abdur Rasyid, sehingga nilai filantropi tetap hidup dalam praktik keseharian, bukan sekadar menjadi cerita sejarah. Sementara itu, Ketua IKHAR, KH. Abdul Mannan Qoffal, menekankan pentingnya regenerasi dan pemeliharaan silaturahim sebagai sarana untuk terus memperbarui informasi kondisi keluarga, yang dalam konteks kelembagaan modern dapat dimaknai sebagai kebutuhan akan sistem informasi dan database yang hidup dan terus diperbarui.

Jika seluruh potensi ini ingin benar-benar diorkestrasi secara nyata, maka langkah konkret yang harus segera dilakukan adalah membentuk Tim Inisiator Database dan Pengembangan SDM Bani IKHAR yang bekerja dalam jangka 3–6 bulan untuk menyusun dan meluncurkan sistem pendataan digital seluruh anggota, lengkap dengan peta pendidikan, profesi, dan kompetensinya. Secara paralel, perlu dibentuk Forum Sinergi Pesantren–Ekonomi yang menghubungkan lembaga pendidikan dengan unit usaha keluarga untuk program beasiswa berbasis ikatan pengabdian, inkubasi wirausaha santri, serta pilot project pertanian terpadu berbasis teknologi di lahan milik Bani.

Di bidang kaderisasi, perlu dimulai Program 100 Kader Strategis yang memilih generasi muda potensial untuk dibina secara intensif dalam bidang kepemimpinan, manajemen, dan penguatan ideologi Aswaja. Sementara itu, untuk menjaga nilai dasar, dibentuk Gerakan Silaturahim Aktif berbasis data yang memastikan setiap keluarga yang sakit, mengalami kesulitan ekonomi, atau membutuhkan dukungan dapat terdeteksi dan direspons secara cepat oleh jaringan internal. Dengan program-program konkret ini, Bani IKHAR tidak hanya berhenti pada HAUL AKBAR TAHUNAN dan berwacana besar, tetapi benar-benar bergerak sebagai kekuatan kolektif yang terorganisir, terukur, dan berdampak nyata.