Gojlokan Mbah Zayyadiy dan Mbah KH. Syamsuddin: Humor Copet dan Kelapangan Jiwa Para Ulama

Dalam satu kisah yang diceritakan oleh Kak Tuan KH. Syamsuddin bin Abdul Aziz bin Syamsuddin, pernah suatu hari Mbah Zayyadiy bersama gurunya, KH. Syamsuddin, dan Mbah Tuan Asmuni dari Budhur hendak pergi ke Banjarejo. Mereka menempuh perjalanan menggunakan kereta api. Dalam perjalanan itu terjadi peristiwa yang cukup menggelikan, Mbah KH. Syamsuddin kecopetan hingga uangnya habis.

Mengetahui kejadian itu, Mbah Zayyadiy berkomentar dengan nada setengah prihatin sekaligus bercanda, “Kasihan, kok ada kiai yang bisa dicopet orang.” Kalimat itu seolah mengandung sindiran halus: seorang kiai, figur yang biasanya dihormati, justru menjadi korban copet.

Namun jawaban Mbah KH. Syamsuddin jauh lebih jenaka sekaligus cerdas. Beliau menjawab, “Tadi copetnya sudah mengecek semua kiai, tapi ternyata tidak ada yang membawa uang, kecuali saya.” Mendengar jawaban itu, Mbah Zayyadiy “kalah” lagi dalam gurauan. Sebagaimana sering terjadi, dalam gojlokan semacam ini Mbah Zayyadiy hampir tidak pernah menang melawan kecerdikan humor Mbah KH. Syamsuddin.

Jika dibaca secara lahiriah, kisah ini hanya cerita ringan tentang kecopetan di kereta. Tetapi dalam perspektif spiritual para kiai, terutama dalam tradisi tasawuf, kisah semacam ini sering kali menyimpan pesan batin yang lebih dalam.

Pertama, kisah ini menyentuh konsep zuhud dalam tradisi sufistik para kyai. Dalam banyak literatur tasawuf, termasuk karya-karya Imam al-Ghazali, zuhud tidak berarti menolak dunia sepenuhnya, tetapi tidak menggantungkan hati kepada harta. Dalam cerita ini, gurauan bahwa para kiai tidak membawa uang sebenarnya merupakan simbol kehidupan yang ringan dari keterikatan material. Bahkan ketika uangnya hilang, responsnya bukan kemarahan atau kepanikan, melainkan humor sosial yang membahagiakan.

Kedua, kisah ini menunjukkan kebebasan batin dari rasa malu sosial. Dalam logika duniawi, kecopetan bisa menjadi peristiwa yang memalukan. Tetapi dalam perspektif spiritual, kehilangan harta tidak merendahkan martabat seseorang. Justru dengan menertawakan diri sendiri, seorang kiai menunjukkan kelapangan jiwa. Dalam tasawuf, keadaan ini sering disebut sadr wasi’, dada yang lapang.

Ketiga, humor ini mencerminkan pendidikan kerendahan hati. Ketika Mbah Zayyadiy berkata, “Kasihan ada kiai yang bisa dicopet,” jawabannya membalik perspektif, bukan soal dicopetnya yang penting, tetapi fakta bahwa hanya beliau yang membawa uang. Gurauan ini sekaligus menegaskan bahwa identitas seorang kiai tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh ketenangan batinnya.

Dalam tradisi kiai Madura, humor seperti ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk hikmah yang disampaikan melalui kelakar. Dengan humor, pelajaran tentang zuhud, kerendahan hati, dan kelapangan jiwa bisa diterima tanpa terasa menggurui. Orang tertawa terlebih dahulu, baru kemudian memahami pesan yang tersembunyi di baliknya.

Karena itu, cerita tentang copet di kereta bukan sekadar anekdot perjalanan. Ia adalah gambaran kecil tentang bagaimana para ulama memandang dunia: ringan, tidak melekat, dan selalu mampu mengubah bahkan kehilangan sekalipun menjadi bahan tawa yang menyejukkan hati.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *