DARI HUBBUL WATHAN KE HUBBUL WADHON
Hari ini, 29 Mei 2025, saya mengambil hari libur panjang bersama istri dan anak perempuan saya di rumah mertua, Coper…
Hari ini, 29 Mei 2025, saya mengambil hari libur panjang bersama istri dan anak perempuan saya di rumah mertua, Coper…
Para Ulama’-Cendekia, pengambil kebijakan dan tokoh masyarakat yang saya hormati, Akhirnya, sebagai penutup orasi ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa al-Qur’an…
Para Ulama’-Cendekia, pengambil kebijakan dan tokoh masyarakat yang saya hormati, Berangkat dari penjelasan bagian sebelumnya, saya memandang bahwa Perguruan tinggi…
Para Ulama’-Cendekia, pengambil kebijakan dan tokoh masyarakat yang saya hormati, Dalam menghadapi kompleksitas zaman modern, umat Islam dituntut untuk tidak…
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Yang Terhormat dan saya taati Ibu saya, Nyai Hj. Hanifah bint As’ad bin Isma’il, dan Ibu Mertua…
Idul Fitri sebentar lagi. Idul fitri di Kota, seperti Kota Pendidikan Malang, selalu ada fenomena mudik mahasiswa Rantau. Puluhan atau…
Saat bealajar di Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum, Ganjaran, saya diajari peribahasa “Lain lubuk lain pula ikannya” dan “Lain ladang lain pula belalangnya.” Kata Pak Munadi, guru saya waktu itu, peribahasa itu menggambarkan bahwa setiap tempat memiliki aturan, adat, dan kebiasaan yang berbeda, yang berarti setiap tempat memiliki kebiasaan, aturan, dan adat yang berbeda. Oleh karenanya, dalam berinteraksi dengan lingkungan atau masyarakat baru, seseorang harus memahami dan menyesuaikan diri dengan perbedaan yang ada. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Alhasil, penting bagi kita menyesuaikan diri dengan norma dan budaya setempat.